Artikel

Raja Pangaea Milenium

Ilustrasi media digital. Foto olahan dari Pixabay.com

Dikisahkan pada 300 juta tahun silam, bumi hanya terdiri dari satu lautan dan satu daratan. Lautannya disebut Panthalassa. Sementara dataran luasnya bernama Pangea. Pangea terbentang dari Eurasia hingga Australia. Belum ada dinosaurus kala itu (era Paleozoikum). Begitu sampai 100 tahun kemudian. Hingga terjadi keretakan di kerak bumi, dan akhirnya terpecah menjadi benua-benua saat ini. Cerita ini disampaikan oleh Alfred Wergener pada tahun 1927 silam.

Banyak orang membayangkan betapa asyiknya bila bumi ini masih menjadi satu induk benua. Tak perlu lagi susah-susah harus naik pesawat. Cukup menggunakan kereta seperti milik Jepang – dengan kecepatannya 600 km/jam. Kabar baiknya, pada 250 juta tahun mendatang, seluruh benua itu akan kembali menjadi induk benua. Lantaran terjadi pelebaran Samudera Atlantik dan Pasifik yang menyusut. Amerika bertabarakan dengan Antartika, lalu Afrika bergabung dengan Eurasia. Pertanyaannya, apa manusia masih hidup saat itukah? Atau lebih dahulu kiamat datang?

Beruntung, teringat pesan Marshal McLuhan awal 1960-an. Layaknya orang tua menghibur anak-anaknya dengan dongeng-dongeng. McLuhan menceritakan dunia ini akan menjadi ‘desa global’ dalam waktu dekat. Agar sedikit rasional, ia berdalih perkembangan teknologi komunikasi yang menjadi jembatan penghubung dari satu benua ke benua lainnya. Tak ada batas waktu dan tempat yang jelas.

Mungkin, McLuhan dulu punya mesin waktu dan berpergian sampai ke era saat ini. Dimana dongengnya memang benar-benar terjadi. Pangaea versi lainnya. Bila Pangaea dulu terjadi pada era Paleozoikum. Namun Pangaea yang ia datangi berada di era digital. Tak perlu lagi berhadapan muka langsung untuk menemui orang di ujung benua sana. Cukup melalui sebuah dimensi terintegrasi yang disebut ‘internet’. Ya, disanalah Pangaea Milenium berada.

Dalam ramalannnya, McLuhan mengatakan manusia akan sangat tergantung pada teknologi komunikasi dan informasi. Tak terkecuali aspek perekonomian. Ritel modern – yang sempat jemawa merasa superior dibanding pasar tradisional – mulai was-was. Badai perdagangan elektronik atau akrab disapa e-commerce melanda, memporak-porandakan sekitar 6.400 ritel di Amerika Serikat. Pusat badainya, tak lain dan tak bukan ialah konsumen mereka sendiri: kalangan milenial. Mereka customer sekaligus masyarakat yang hidup dalam Pangaea ini.

Layaknya Nokia yang tak siap saat munculnya Android, banyak dari perusahaan (brand) kewalahan dengan perubahan budaya. Kuda hitam berupa peradaban digital dimulai. Platform penjualan berubah menjadi serba online. Meski sudah punya i fisik di dunia nyata, wajib hukumnya memiliki toko online. Kalau tidak, siap-siap tersapu ganasnya persaingan yang kian kompetitif, terbuka dan dengan permintaan masyarakat begitu majemuk.

Di  antara sejumlah strategi pemasaran, mungkin yang menarik diperhatikan yakni elemen promosinya. Tak lagi seperti dulu sekali yang digambarkan para arkeolog: mempromosikan barang dengan berteriak di gerbang kota. Atau serupa pada masa Babylonia 3.000 SM dengan menuliskan promosi iklan pada kepingan tanah liat layaknya prasasti. Lalu seperti orang-orang Roma Kuno dengan dibacakan oleh tukang teriak kota (town crier) yang biasa didampingi pemain musik. Juga sebagaimana yang dilakukan oleh penjaja produk komestik merek Aesclyptos – yang saat itu sangat terkenal – dengan menyanyikan semacam puisi. Maupun praktik salesman yang langsung door-to-door pertama kali dilakukan oleh bangsa Mesopotamia.

Begitu pula praktik iklan lewat surat kabar – yang sudah dimulai sekitar abad 15-16 M – terus menurun volumenya dewasa ini.  Konon di awal adanya iklan di surat kabar biasanya berisi penjualan budak belian, kuda dan obat-obatan. Adapun satu-satunya bentuk promosi yang masih bertahan hingga saat ini ialah iklan televisi. Menampilkan artis rupawan sebagai brand ambassador-nya guna menarik minat masyarakat. Meski demikian, iklan di televisi kerapkali tak efektif. Terlalu sering, menjenuhkan dan terabaikan. Sampai-sampai lembaga survey Cancer Research UK merilis temuan bahwa iklan TV mampu menambah nafsu makan cepat saji (junk food) seseorang. Menariknya, mereka belum pinua penjelasan logis atas hubungan keduanya. Fenomena itu lalu ditulis oleh Nicky Broyd “TV ads make teens creve junk food”.


“TV ads make teens creve junk food”

– Nicky Broyd

Lalu iklan seperti apa yang efektif dan sehat (bebas junk food)? Adalah media online muncul sebagai penanda peradaban digital. Sebagian besar manusia mengakses media online. Pusat pertukaran informasi dan transaksi di Pangaea Milenium. Kanalnya beragam dari media sosial (medsos), website, blog, Youtube dan lain sebagainya. Menolak keberadaan media online ini tidak mungkin. Atau seperti judul lagu James Arthur ‘IMPOSSIBLE’.

Sudah jelas medianya, lantas apa kemudian? “Content is the King”. Begitulah seperti esai yang dituliskan oleh pendiri Microsoft, Bill Gates pada Januari 1996. Ringkasnya, media online merupakan ceruk (niche). Siapapun bisa berlomba untuk mencari uang dari sana. Sebagai ketentuannya, barangsiapa punya konten yang menarik, dialah yang menang, dia yang untung. Dialah rajanya. Dan tak terbatas untuk kalangan perusahaan saja, tapi juga berlaku pada perseorangan.

Ibarat media online adalah hutan belantara, para pemburu peruntungan (bounty hunter) di sana disebut content creator. Tentu bukan profesi yang mudah dan cepat untung. Meniti awal karir dari bawah, menghadirkan konten dengan serba keterbatasan. Terus belajar menjadi lebih baik di kemudian hari. Begitu sampai sedikit demi sedikit orang melirik dan mengikuti. Hingga dimana dia dapat mempengaruhi orang lain, kemudian menjelma menjadi apa yang disebut influencer. Perjalanan menjadi raja baru dimulai dari sana. Kuncinya adalah kreatif.

Bicara kreatif, karakter itu seolah menjadi salah satu prasyarat seorang raja. Tengoklah kisah Pangeran Charles sebelum menjadi Raja Inggris. Meski keturunan bangsawan, ia tak lantas hidup mewah dan berfoya-foya. Charles kecil dididik di sekolah yang terbilang sederhana. Untuk tambahan uang jajan pun, ia sampai harus berpikir keras. Akhirnya, ia berinisiatif menjual tanda tangan ke teman-temannya. Sempat terjadi skandal, karena tanda tangan itu justru dijual kembali oleh teman-temannya. Konflik itu hal yang biasa terjadi, banyak pelajaran diambil dari sana. Tapi, lihat bagaimana kreatifnya Pangeran Charles di usia dini.

Superstar Youtuber PewDiePie. Foto: GettyImages/ John Lamparski

Begitu pula yang dilakukan oleh Youtuber Felix Arvid Ulf Kaejlberg. Harusnya saat ini dia sudah menyabet gelar Industrial Economics and Teconology Management di Chlamers University. Tapi pria asal Swedia tersebut memutuskan dropout dari bangku kuliahnya dan membiayai hidupnya dari berjualan hotdog di pinggiran jalan. Di saat yang sama ia mulai membuka channel Youtube bernama “PewDiePie”. Isinya tentang komentar game komputer – yang sebagian besar bergenre horror dan aksi. Polahnya saat ceplos terkaget-kaget kala melihat penampakan hantu dalam game menjadi daya pemikat. Orang terhibur dengan tingkahnya. Seberap lucu? Sulit untuk dijelaskan. Alangkah baiknya, Anda bisa lihat langsung di channel Youtube-nya sendiri.  

Berkarir menjadi kreator video di Youtuber sejak 2010. Berbagai game diulas dengan segarnya. Sebut saja “Olaf’s Demise”, “Nosferatu” dan lain sebagainya. Alhasil, usahanya terbayarkan. Pengikut setianya (subscriber) kini lebih dari 81 juta orang. Jumlah yang hampir sama dengan penduduk di Jerman. Sementara rajanya tak lain dan tak bukan Felix alias PewDiePie. Sebuah monarki dalam dunia digital. Sebagai simbol kerajaannya bukan mahkota, melainkan plakat penghargaan tertinggi dalam sejarah Youtube dunia, Ruby Play Button. Dan dengan itu, ia resmi menyandang gelar ’King of Youtube’.

Pengaruh inilah yang mengguggah perusahaan (brand) game untuk menggandeng dan menjadi sponsornya. Bagaimana tidak? Dengan sebegitu banyaknya subscriber, tiap kalam PewDiePie bak titah seorang raja pada rakyatnya. Dengan patuh mereka akan melihat, mencari tahu dan ikut mencoba game yang direkomendasikan tuannya. Pundi-pundi uang mengalir dalam kerajaannya. Tercatat tidak kurang PewDiePie mengumpulkan USD 15 juta (Rp 222 miliar) per tahun.

Gambaran itulah yang memicu semangat para kreator muda lain di seluruh dunia untuk turut andil, berkarya dan mengadu nasib. Tak melulu lewat Youtube. Blog pun jadi lumbung uang. Gaya native advertising (native ads) menjadi pemikat tersendiri. Karena sisipan promosi iklannya terbilang halus, kreatif dan cerdas. Tak seperti iklan banner yang tiba-tiba muncul dalam tayangan media online. Seolah asal dijejal-jejalkan saja.

Salah satu blogger yang sukses ialah Gina Trapani dengan blog-nya bernama Lifehacker. Tak muluk-muluk, ia kerap membahas urusan sehari-sehari. Terasa begitu dekat.

Masih ada platform lainnya yang digunakan para kreator lainnya. Poin utamanya, zaman telah beralih dari era industri konvesional menjadi industri 4.0. Dimana sebagian besar rangkaian kehidupan manusia lekat dengan internet. Kebutuhan visual dan teks menjadi sangat penting. Peluang kreator konten semakin luas. Semakin menarik konten yang dihasilkan, semakin besar pula keuntungan yang didulang. Berkarya, berbenah dan terus begitu. Bila ‘content is the king’, maka kalian para kreator adalah raja diraja. Raja Pangaea Milenium. #WhenCreatorsRuleTheWorld

@GetCraft_ID mengadakan kompetisi kreatif untuk menjawab pertanyaan ‘Apa jadinya dunia ketika kreator menguasai dunia?’ Bantu saya memenangkan 100 juta rupiah dengan cara memberi likes, komentar, atau share karya saya ke teman-teman lainnya! bit.ly/idcreatorsruletheworld #GetCraft #WhenCreatorsRuleTheWorld

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.